sains modern atau sains barat

Sains Modern Atau Sains Barat
Oleh Maimuna Siregar
Siregarmaimuna1@gmail.com

ABSTRAK
Advances in science and technology have made many human activities easier. Such as denied that many negative impacts are also caused by science and technology, including the environment. The problem that originally wanted to be solved by science and technology turned out to be even more complicated. This study will examine how the characteristics and implications of modern Western science on the environment in a Theological review. This research uses the method of abstraction, holistica, and hermeneutical circles. characteristics of modern Western science are based on rationalists, empiricists, and anthropocentric. So that it has bad implications for the environment, the pattern of human interaction with the environment becomes destructive and exploitative of nature.
Keywords: Western Science, Environment

ABSTRAK
Kemajuan sains dan tekhnologi telah banyak menjadikan aktifitas manusia menjadi lebih mudah. Seperti kemudahan dalam transportasi, komunikasi, industri, dan keamanan. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri pula bahwa banyak dampak negatif yang juga disebabkan oleh sains dan teknologi, diantaranya lingkungan hidup. Problematika yang semula ingin diselesaikan dengan sains dan teknologi ternyata justru kian membuat problem menjadi semakin pelik. Penelitian ini akan mengkaji bagaimana karakteristik dan implikasi sains Barat modern terhadap lingkungan hidup dalam tinjauan Teologi. Penelitian ini menggunakan metode abstraksi, holistika, dan lingkaran hermeunetik. karakteristik sains Barat modern bertumpu pada rasionalis, empiris, dan antroposentris. Sehingga berimplikasi buruk terhadap lingkungan, pola interaksi manusia dengan lingkungan menjadi destruktif dan eksploitatif terhadap alam
Kata Kunci: Sains Barat, Lingkungan Hidup

PENDAHULUAN
Penemuan sains dan teknologi telah banyak memudahkan aktivitas manusia. Dari berbagai penemuan serta pengembangannya membuat manusia dapat memahami, mengolah dan menguasai alam. Menurut Ali Anwar Yusuf, sains secara sederhana dapat diartikan sebagai himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui suatu proses pengkajian secara empirik dan dapat diterima oleh rasio, sedangkan teknologi adalah penerapan sains untuk mengendalikan alam dalam proses produktif ekonomis sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Jalaluddin, bahwasanya kemajuan yang dicapai oleh sains telah menghasilkan berbagai macam temuan dan pengembangan yang memudahkan aktifitas manusia. Seperti, penghematan waktu dan tenaga, memperdekat jarak, kemudahan transportasi, maupun cara-cara mendapatkan kenyamanan lainnya. Hampir dalam semua bidang kehidupan manusia dapat menikmati produk teknologi, mulai dari peralatan rumah tangga yang sederhana, hingga peralatan industri yang besar. Dengan semua kemajuan itu, hidup manusia menjadi tampak lebih mudah, cepat, dan menyenangkan. Mirisnya, disisi lain dengan sains dan teknologi pula telah menyebabkan berbagai masalah dalam banyak bidang, baik bidang sosial, ekonomi dan juga lingkungan hidup. 
Kenyataan ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh M. Francis Abraham, Walaupun modernisasi sangat dianjurkan, begitu didorong dan diikuti secara bergairah, akan tetapi tidak seorang punyang mengansumsikan bahwa ia merupakan karunia yang tidak bercampur (positif dan negatif). Artinya selain bersifat memanjakan juga mempunyai karakter negatif.  Menurut Seyyed Hussen Nasr, bahwa akar dari seluruh krisis yang disebabkan sains Barat adalah kesalahan dalam mengkonsepsikan manusia. Senada juga yang disampaikan oleh Indriyani Ma’rifah bahwa akar masalah ini terletak pada penafsiran sekuler yang merata mengenai status manusia di bumi. Pembahasan mengenai implikasi sains dan teknologi tentu telah banyak yang membahasnya antara lain; M. Muhtarom Ilyas , Zainuddin Maliki7 , Dede Rodin. Muhammad Wahid Nur Tuaeka, Rabiah Z. Harahap , H. Asep Muhyiddin , Dalam artikel ini akan membahas bagaimana karakteristik sains Barat dan implikasinya terhadap lingkungan hidup dalam tinjauan Teologi. Penelitian ini menggunakan metode abstraksi, holistika, serta lingkaran hermeunetik. Karakteristik akan membentuk cara pandang dan pada akhirnya cara pandang inilah yang akan menuntun bagaimana berinteraksi terhadap lingkungan. jika lingkungan dianggap sebagai objek dan manusia sebagai sobjek, maka alam akan bebas diperlakukan sesuai dengan selera manusia sebagai pengendali
Sains Barat Modern
Dalam lintasan sejarah Barat, Lonceng pemisahan antara sains dan agama di Barat ditandai dengan munculnya zaman “pencerahan” yang bermetamorfosis menjadi modernitas pada abad ke-17, peristiwa tersebut dimaknai sebagai peristiwa pemberontakan manusia terhadap Tuhan ( agama Kristen), modernitas sebagai anak kandung renaissance lahir dari spirit pemberontakan tersebut.  Essensi dari semangat renaisans adalah pandangan manusia bukan hanya memikirkan nasib diakherat seperti semangat abad tengah, tetapi mereka harus memikirkan hidupnya didunia ini, nasib manusia ada ditangan manusia. Beberapa tokoh penemu dibidang sains pada masa renaisans antara lain; Johanes Kepler, Galileo Galilee, Issac Newton dan Prancis  Jika ditelisik secara historis, para ilmuwan Barat abad pertengahan pernah terlibat “konfrontasi sengit” dengan kaum agamawan (agama Kristen). Hal ini terjadi lantaran dominasi dan hegemoni dewan gereja yang demikian kuat terhadap seluruh aspek kehidupan masyarakat Barat, termasuk aktivitas ilmiah. Semua aktivitas ilmiah harus sepengetahuan, seizin, dan tunduk pada ketetapan Gereja.Zaman modern sebagaimana yang kemukakan oleh Mahmud Hamdiy, dimulai sejak awal kebangkitan zaman renaisans terjadi sekitar abad ke-16 dan abad ke-17 yang kemudian menjadi bagian awal dari zaman mdern hingga abad ke 19.  Memasuki abad modern, sains modern mengalami perkembangan yang cukup signifikan, ilmu pada zaman inimenegaskan bahwa ilmu tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga berasal dari penguasa, tetapi berasal dari diri manusia itu sendiri.
Hal ini bermula pasca renaisans yang ditandai dengan kebangkitan industrialisasi di Barat, manusia menemukan kesadaran baru, kesadaran sebagai makhluk yang sangat penting di muka bumi ini. Kesadaran ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang unik, yang menduduki posisi tertinggi di tengah jagad semesta ini, manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lain di alam ini bahkan terpisah dari alam. Berpangkal pada kesadaran bahwa manusia dengan akalnya dapat menemukan kebenaran yang didasarkan pada rasio dan materi. Secara umum ciri sains abad modern mempertahankan kecenderungan individualistis dan subjektif. Meskipun para filusuf modern menawarkan gagasan yang berbeda-beda, akan tetapi masih dalam warna yang sama.  Menurut Muhammad Alfan, Pemikiranpemikiran khas sains Barat modern adalah sebagai berikut
Rasionalisme. Aliran ini berpendapat bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang memadai dan dapat dipercaya. Sedang pengalaman hanya dipakai untuk menguatkan kebenaran pengetahuan yang telah diperoleh melalui akal. Tokohnya adalah Rene Descartes, Spinoza, dan Leibniz. 
Emperisme. Aliran ini menyatakan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah pengalaman, sedangkan akal hanya berfungsi mengatur dan mengelolah data yang diperoleh dari pengalaman. Aliran ini dipelopori oleh francis bacon. Dan tokoh yang lainya diantaranya Thomas Hobbes, John Lucke dan David Hume. 
 Kritisisme. Kritisisme merupakan aliran yang bermaksud menyatukan dua pandangan yang berbeda antara rasionalisme dan empirisme yang dipelopori oleh Immanuel Kant. Ia berpendapatbahwa pengetahuan yang benar adalah hasil kerja sama dua unsur yakni “pengalaman” dan “kearifan budi”. 
 Positivisme. Tokoh utama aliran ini adalah Augus Comte,yang hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif ilmiah. Sedangkan pada praktik pembangunannya dilapangan sebagai lanjutan dari paradigma antroposentrisme, pembangunan yang dikembangkan yakni pembangunan bercorak pembangunan konvensional. Menurut Emil Salim yang kutip oleh Yonathan, pola pembangunan konvensional sebagai berikut.
Dalam pembangunan konvensional sumber daya alam dikelola terlepas dari fungsi ekosistemnya. fungsi keterkaitan, keaneka ragaman, keseralasan, dan keberlanjutan dari ekosistem diabaikan sepenuhnya. Dan sumber-sumber alam yang dioah dilihat terlepas dari kaitannya dengan ekosistem. 
 Dalam pembangunan konvensional tidak diterapkan system amdal, sehingga dampak kerusakan lingkungan terutama diluar perusahaan tidak diperhitungkan. 
 Dalam pembangunan konvensional tidak terdapat secaraeksplisit orientasi perhatian pada nasib generasi masa depan
 Dalam pembangunan konvensional berlaku jangkauan waktu penglihatan jangka pendek, maka keputusan yang diambil untuk jangka pendek belum tentu sesuai dengan kepentingan pengembangan jangka Panjang. 
Dalam pembangunan konvensional, komponen lingkungan yang tidak bsa dipasarkan tidak masuk perhitungan, sehingga udara, sungai, laut dan komponen media lingkungan secara gratis bisa dicemari tanpa kenaikkan biasa. Memasuki abad modern, sains Barat modern mengalami perkembangan yang cukup signifikan, ilmu pengetahuan pada zaman ini menegaskan bahwa ilmu tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga berasal dari penguasa, tetapi berasal dari diri manusia itu sendiri. Pada zaman modern, muncul aliran paradigma dalam ilmu pengetahuan, antara lain: Sekularisme Pengertian sekularisme adalah pembebasan manusia pertamatama dari agama dan kemudian metafisika yang mengatur nalar dan bahasannya. Selanjutnya, sekuler mengandung arti bersifat duniawi atau yang berkenaan dengan hidup dunia sekarang lawannya adalah bersifat “ukhrawi” atau “keagamaan”, Menurut B. Wilson yang dikutip oleh M.Solihin menyatakan sekulerisasi adalah cara pandang hidup yang memisahkan agama dan urusan Negara. Tokoh sekularisme adalah George Jcub Holyoake. Ia dinobatkan sebagai pendiri faham sekuler.  Sekulerisme lahir disaat pertentangan antara ilmu (sains) dan agama(agama Kristen) sangat tajam. Ilmu tampil dengan independensinya yang mutlak, sehingga bersifat sekuler. Agama dalam pandangan sekurelirme adalah sesuatu yang bediri sendiri. Agama dianggap sebagai masalah pribadi yang tidak ada hubungannya dengan negara. 
Definisi-definisi diatas menunjukkan bahwa sekularisme mengandung pengertian suatu pembebasan manusia dalam berfikir dan dalam segala sektor kehidupan pribadi dan masyarakat yang berwujud dalam berbagai aspek kebudayaan, dari segala yang bersifat keagamaan dan metafisika, sehingga bersifat duniawi belaka. Sedang sekularis adalah orang yang berpegang pada sekularisme dan mempraktikkan sekularisasi dalam kehidupannya.  Materialisme Materialisme beranggapan bahwa dunia ini hanya kuantitas fisik yang dapat diukur dengan matematika, dapat dijelaskan tanpa menggunakan prinsip-prinsip nonfisik. Materialisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada hal yang nyata kecuali materi. Pikiran dan kesadaran hanyalah penjelmaan dari materi dan dapat dikembalikan pada unsur-unsur fisik. Positivisme Positivisme diperkenalkan oleh Saint-Simon dan dikembangkan secara pesat oleh seorang sosiolog perancis AugustComte. Positivisme merupakan suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu –ilmu alam (empiris) sabagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak nilai metafisis. Aliran ini ditandai dengan pendewaan ilmu dan metode ilmiah. Positivisme adalah aliran yang berpendirian bahwa filsafat itu hendaknya semata-mata mengenai dan berpangkal pada peristiwa-peristiwa positip.  Menurut paradigma positivisme kepercayaan dokmatis harus digantikan dengan faktawi. Apapu diluar pengalaman tidak diperhatikan dan manusia harus menaruh perhatian pada dunia. Sikap negative positivisme terhadap kenyataan yang diluar pengalaman telah mempengaruhi berbagai bentuk pemikiran modern antara lain: pemikiran bersifat pragmatisme, instrumentalisme, naturalisme, dan behaviorisme. Pemahaman ini yang pada umumnya penganut empirisme.  Hedonisme Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidupAliran ini berpendapat bahwa sesuatu yang baik adalah yang menimbulkan kepuasan, kepuasan ini adalah yang menyenangkan panca indera manusia. Jadi yang baik adalah yang menyenangkan pancaindera kesenangan relative bersifat lahiriah.  Hedonisme menganjurkan manusia untuk mencapai kebahagiaan yang didasarkan pada kenikmatan, kesenanga (pleasure), penganjur aliran ini adalah Cyrenaics (400 SM) menyatakan bahwa hidup yang baik adalah memperbanyak kenikmatan melalui kenikmatan indera dan intelek. Mereka beranggapan hidup ini hanya sekali sehingga ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Pandangan mereka terangkum dalam pandangan efikuris yang menyatakan, “bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu karena besok engkau akan mati.
Pemaknaan Sains Barat Terhadap Lingkungan Hidup
Cara pandang manusia atas lingkungan, sangat berpengaruh pada wajah asli lingkungan. Sebab, cara pandang telah menyebabkan adanya pemaknaan yang berbeda- beda atas bumi oleh manusia berdasarkan paradigmanya. Nilai dan arti dari lingkungan hidup sangat ditentukan oleh pola pikir, sikap hidup, tujuan dan kecakapan teknik manusia. Oleh karenanya, wajah lingkungan alam asli akan berubah menjadi wajah alam budaya. Ilmu pengetahuan Barat telah memunculkan pola pikir yang pada akhirnya telah membentuk pola tindakannya. Berdasarkan pemaparan tentang karakteristik sains Barat modern pada pembahasan sebelumnya, Sains Barat modern telah membentuk pola dominasi tersendiri, yaitu materialisme, hedonisme, dan juga eksloitatif terhadap lingkungan. Hamdani mengungkapkan secara garis besar aktivitas sains Barat modern berimplikasi buruk pada lingkungan hidup yaitu: Pengambilan sumber daya alam (Eksploitatif), penggungundulan hutan (Distruktif), serta pencemaran.Pengambilan sumber alam secara besar-besaran menggunakan perangkat teknologi modern, menjadi ancaman tidak tersedianya sumber alam lagi bagi generasi mendatang, penebangan hutan secara besar-besaran menyebabkan terjadinya penggundulan hutan yang juga mendorong semakinmeningkatnya suhu udara dimuka bumi ini, Sistem pengelolaan limbah industri yang tidak di tata secara baik, menyebabkan lingkungan tidak hanya kotor, tetapi juga tercemar, serta sejumlah kasus lainya. 

Sedangkan paradigma terhadap lingkungan, dalam istilah A.Sonny Keraf disebut dengan paradigma antroposentrisme. Karakter inilah yang menjadi pilar utama metode (epistemologi) sains Barat dalam memberikan penilaian terhadap seluruh kerjanya, baik menyangkut kepentingan orang banyak maupun perseorangan, lingkungan dan bahkan juga masalah agama. Paradigma antroposentrisme sangat instrumentalistik, dalam pengertian memahami pola hubungan manusia dengan alam sebagai relasi instrumental. Alam merupakan alat untuk memenuhi kepentingan manusia. Meskipun manusia memiliki kepedulian terhadap alam, tujuan utamanya adalah agar alam bisa menjamin ketersediaannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Alam akan dibiarkan terlantar ketika tidak mampu menyediakan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan manusia. Sifat lain yang juga melekat pada antroposentrisme adalah egoisme. Yang memandang kepentingan manusia merupakan yang paling utama. Kepentingan makhluk hidup dan alam semesta seisinya, dinomorduakan sesuai kebutuhan manusia. Moralitas makhluk hidup dan alam semesta adalah moral kepentingan manusia itu sendiri. Posisi relasi tersebut, menyebabkan manusia eksploitatif, destruktif, rakus dan tamak atas sumber daya alam. Sebagai implikasi dari paradigma antroposentrisme menyebabkan setiap interaksi manusia dengan alam bersifat eksploitatif, karena alam dianggap tak lebih dari sebuah obyek yang tak akan bereaksi apabila digali, ditebang, di cemari atau diracun. Aktifitas pertambangan, industri manufaktur, perambahan hutan dan perkebunan skala besar merupakan aktifitas sehari-hari yang terkesan memanfaatkan keberadaan isi bumi demi kebutuhan dan kesejahteraan manusia. Eksploitasi tersebut mengakibatkan terjadi perubahan bentang alam, meningkatnya frekuensi tanah longsor, terbentuknya terowongan, genangan air yang tidak dikehendaki, serta gangguan terhadap kehidupan satwa liar. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Franz Magnis Suseno, yang dikutip oleh Heru Santoso dalam bukunya Etika Dan Teknologi, Kenyataan bahwa manusia sedang berada dalam proses perusakan lingkungan kehidupanya, lama-kelamaan mulai disadari di seluruh dunia. Hutan ditebang dengan akibat banjir dan tanah longsor yang semakin gawat. Eropa dan amereka mengalami suatu kematian hutan-hutan yang semakin mengkhawatirkan. Hujan asam mematikan kehidupan dalam danau-danau di kanada. 
Kemampuan alam untuk membersihkan diri semakin digerogoti. Beberapa ilmuan mulai menyadari bahwa kompleksitas krisis ekologi ini tidak dapat dipisahkan dari pandangan manusia modern. Hal ini dapat dibuktikan dan dilihat dari pernyataan-pernyataan para sarjana berikut ini. Pertama, Langdon Gilkey menyatakan, “relasirelasi modern terhadap alam semesta,bahkan sikap dan pandangan manusia modern terhadap alam, telah mendorong berbagai bencana yang terjadi dewasa ini”. Kedua, Gregory Bateson dalam steps to An Ecology of Mind menyatakan: Sudah jelas bagi banyak orang bahwa banyak bahaya mengerikan telah tumbuh dari kekeliruan epistemologi Barat. Ketiga, Fritjof Capra menyatakan, “krisis-krisis global dimuka bumi dapat dilacak pada cara pandang dunia manusia modern”. Pandangan para sarjana di atas melukiskan kecenderungan problem kemanusiaan global yang makin terkait satu sama lain sebagaimana halnya kesalinghubungan dan kesalingtergantungan berbagai aspek dan dimensi kehidupan itu sendiri. Menanggapi pernyataan diatas, Manik juga mengungkapkan pendapat yang senada bahwa perkembangan peradaban manusia yang ditunjang oleh kemajuan ilmu dan teknologi, sekaligus juga merusak dan mencemari lingkungan hidup. Pembangunan berbagai industri, seperti industri pupuk, semen, tekstil, kertas, minyak, agroindustri dan lain-lain semuanya berpotensi memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Industri merusak dan mencemari lingkungan tidak hanya teradi setelah berproduksi, tetapi juga dalam tahap proses pembangunannya.
 Dalam proses operasinya, semua industri akan menghasilkan produk sampingan yang tidak atau kurang ekonomis, produk sampinganini disebut dengan limbah, yang terdiri dari limbah padat, cair, dan gas. Limbah ini jika tidak dikelola dengan baik, maka akan mencemari lingkungan perairan, tanah, dan udara, yang pada akhirnya akan mengganggu kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia. Krisis ini pada kenyataannya bukanlah krisis ekologis belaka, melainkan juga krisis nilai dan pemaknaan dari manusia itu sendiri mengenai perayaan hidup secara menyeluruh. Dengan demikian, krisis tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari kosmos. Karena prinsip kosmos adalah keseimbangan dan ke saling melengkapi, maka krisis ekologis lebih tepat disebut sebagai krisis keseimbangan dan teralienasinya manusia dengan entitas lainnya. Sehingga Kita dapat menyimpulkan eleman kunci grand narasi berdasarkan tiga titik utama. Pertama, Munculnya kapitalisme industri diEropa serta wilayah lainnya disertai dengan menurunnya kepercayaan dan praktik keagamaan dan magis yang sebelumnya merupakan tradisi yang berlangsung dikalangan masyarakat pra-industrial. Perkembangan kapitalisme industri pada level ekonomi dibarengi dalam ruang budaya oleh sekularisasi kepercayaan dan praktik serta oleh progresivitas rasionalisasi kehidupan sosial. Kedua, Menurunnya peran agama dan magis menjadi landasan bagi munculnya sistem kepercayaan secular atau ideology yang diarahkan untuk memobilisir tindakan politik dengan tanpa mengacu pada nilai dan kehidupan yang lain. Kesadaran agama dan mistis masyarakat pra- industrial digantikan oleh kesadaran praktis yang berakar dari kolektivitas sosial dan diawali oleh sistem kepercayaan secular. Ketiga, Perkembangan tersebut melahirkan “ era ideologi” yang berujung pada terjadinya gerakan revolusioner radikal pada akhir abad ke -19. Gerakan tersebut seperti tulisan-tulisan para ahli teori 1950-an dan 1960-an merupakan manesfestasi akhir era ideology. Saat ini kehidupan politik merupakan persoalan reformasi bertahap dan sebagai akomodasi pragmatic terhadap kepentingan pihak yang bertikai.

Implikasi Sains Barat Modern Terhadap Lingkungan Dalam Tinjauan Teologi
Epsitimologi ilmu Barat secara garis besar bersumber pada akal (rasionalisme) dan pengalaman (empirisme) yang nantinya berkembang menjadi aliran positivisme, sedangkan epistimologi ilmu Islam tanpa menapikkan akal dan pengalaman sebagai sumber ilmu pengetahuan, namun yang terpenting dan yang paling utama adalah menjadikan wahyu sebagai sumber primernya. Wahyu untuk nabi dan Ilham untuk manusia pada umunya bersumber dari hati. Hal inilah yang tidak mendapatkan perhatian bagi kelompok positivisme dan rasionalisme. Karena terlalu mendewakan akal dan indera sebagai sumber ilmu, tanpa memperdulikan wahyu mengakibatkan pikiran, waktu dan tenaga yang luar biasa besarnya dicurahkan untuk mencari asalusul semesta alam, yang sifatnya rasional spekulatif dan tidak membawa dampak positif besar bagi kehidupan manusia, bahkan ilmu yang disebutkan sebagai sience ini bisa meruntuhkan keyakinan agama. Misalkan dalam masalah ilmu biologi dan ilmu sejarah, pada umunya tokoh agama hanya berpegang pada tekstual yang ada dalam kitab sebagai senjata untuk memerangi sains modern, melalui teori Darwin, ilmu sekuler ini menyatakan bahwa manusia berasal dari sesosok primata yang berevolusi menjadi manusia seutuhnya.
Tentu teori ini sangat bertentangan dengan ajaran dan konsep dasar Islam tentang penciptaan manusia. Ilmu sekuler ini hanya mempelajari manusia berdasarkan bentuk fisik saja, karena fisik bisa terlihat dan dirasakan oleh indera sedangkan konsep ruh tidak bisa dijelaskan, aliran positivisme dan rasionalisme ini tidak mampu mencapai dan menjelaskan konsep ruh karena epsitimologi ilmu mereka memiliki keterbatasan yang sangat jelas hanya berpegang pada indera dan akal saja, sedangkan urusan ruh bukan termasuk ke dalam ilmu pengetahuan karena bersifat metafisika, sedangkan untuk urusan ilmu metafisika hanya bisa ditelusuri dari epistimologi yang bersumber pada hati. Dengan demikian yang mereka teliti hanyalah unsur fisik manusia, yaitu unsur daging dan tulang. Karena yang tersisa hanya tulang belulang, maka yang diteliti sebenarnya adalah “sejarah tulang manusia” bukan “sejarah manusia”. Charles Darwin, kemudian menyimpulkan bahwa Tuhan tidak berperan dalam penciptaan. Bagi Darwin, asal mula spesies bukan berasl dari Tuhan, tetapi dari “adaptasi kepada lingkungan”. Menurutnya Tuhan tidak menciptakan makhluk hidup. Semua spesies yang berbeda sebenarnya berasal dari satu nenek moyang yang sama. Spesies menjadi berbeda antara satu dan yang lain disebabkan kondisi-kondisi alam. Pandangan dari Darwin ini mendapatkan sambutan luar biasa dari Karl Marx, Marx yang pernah mengatakan bahwa agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah roh zaman yang tanpa roh bahkan agama merupakan candu untuk rakyat.
 Dari pernyataan ini bisa dilihat betapa kuatnya penolakan yang dilakukan oleh golongan ilmuwan Barat-sekuler tentang keberadaan Tuhan. Masih berkaitan dengan teori Charles Darwin, Islam tidak berpandangan demikian, dalam pandangan Islam Allah lah yang menciptakan manusia, fase sejarah terpenting umat manusia adalah saat berada di alam arwah dan membuat ikatan perjanjian dengan Allah SWT. Jadi bukan hanya sekedar pemahaman mengenai bentuk fisik saja, tanpa memperdulikan tujuan diciptakannya manusia, yakni mengenal Allah SWT dan beribadah kepadanya. Jadi cara pandang sekuler dan epistemologi yang menolak wahyu sebagai sumber ilmu menghasilkan ilmu pengetahuan tentang sejarah manusia yang merusak manusia itu sendiri.

Kesimpulan
Karakteristik sains Barat bertumpu pada rasionalis, empiris dan. antroposentris, karakter ini akan menyebabkan interaksi manusia bersifat distruktif dan eksploitatif terhadap lingkungan. Sehingga berimplikasi buruk terhadap lingkungan. Kesalahan dalam mengkonsepsikan manusia sebagai penguasa mutlak lingkungan akan menjadikan manusia memperlakukan lingkungan dengan bebas sesuai keinginannya tanpa memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, penemuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil pikir dan kreasi manusia perlu kiranya dikonfirmasi oleh pemahaman Teologis, Alam boleh dimanfaatkan, tetapi bukan hanya sebagai obyek bagi manusia. Alam boleh diolah, tetapi dijaga dan dipelihara. Karena manusia dan lingkungan adalah sama-sama sebagai karya cipta Illahi yang tergabung dalam satu kesatuan ekosistem



DAFTAR PUSTAKA
Alfan, Muhammad,(2013),  filsafat Modern, Bandung: Pustaka Setia
Baharudin, (2013), M., Dasar-Dasar Filsafat, Bandar Lampung: Harakindo Publishing.
Jalaluddin,(2014) Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Jakarta: Rajawali Pers
Soeprapto,(2002)Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta:Liberty
Husaini, Adrian,(2001) Filsafat Ilmu Persfektif Barat dan Islam, Jakarta: Gema Insani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Logika Filsafat Dan Saintifika

Filsafat ilmu Tentang Dosa