الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (bahasa Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.[1]
Ilmu di sini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa diartikan dengan masuk akal.
_Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antarvariabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis” yang mereka definisikan sebagai “menentukan” bagaimana dan mengapa variabel-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.[1].
Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan yang berbeda pula tergantung pada metodologi dan konteks diskusi. Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta .[2]
وَالسَّمَاۤءَ بَنَيْنٰهَا بِاَيْىدٍ وَّاِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ
Artinya :
Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Kami benar-benar memuaskannya.
“Janganlah kalian memakai sutera, karena barang siapa yang memakainya di dunia, maka tidak akan memakainya di akhirat.” (HR Al-Bukhari-Muslim).
-logika filosofis atau bisa juga disebut logika filsafat, logika sebagai cabang filsafat; . Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika.
-Saintifika adalah model pembelajaran yang menggunakan kaidah-kaidah keilmuan yang memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi, menanya, eksperimen, mengolah informasi atau data, kemudian mengkomunikasikan.
Pembedaan antara pemikiran filsafat dengan pemikiran saintifika tersebut di atas, adalah sebagaian dari perbedaan yang ada. Namun, secara mendasar, perbedaan tersebut sudah mencakup hal-hal pokok dalam pemikiran filsafat dan pemikiran saintifika.
Meski dikatakan sebagai suatu perbedaan, namun, antara pemikiran filsafat dengan pemikiran saintifika, memiliki titik singgung yang saling sinergi.
3. -Filsafat pendidikan Islam adalah konsep berfikir tentang kependidikan yang bersumber atau berlandaskan pada ajaran Islam tentang kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam.
-Saintifika dalam pendidikan islam, yaitu dalam aspek pencapaian tujuan pembelajaran, pencapaian karakter yang diharapkan dalam pembelajaran PAI. Kemudian dalam menyusun kalimat dalam langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan tuntutan pendekatan saintifik telah dituangkan dengan terurai meskipun indikator pencapaiannya belum terlihat secara jelas, dan juga sudah diterapkan meskipun ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan konsep pendidikan dan perlu mendapat perhatian yang lebih serius.
Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis di sini berarti logika dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk menaruh pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya.
Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. Logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran. Bagi para filsuf Islam, berpakaian tidak hanya studi tentang pola formal inferensi dan validitasnya tetapi juga elemen filosofi bahasa dan bahkan epistemologi dan metafisika. Karena perselisihan teritorial dengan para ahli tata bahasa Arab, filsuf Islam sangat tertarik untuk melakukan hubungan antara logika dan bahasa, dan mereka mencurahkan banyak diskusi pada pertanyaan tentang pokok bahasan dan tujuan logika dalamnya sesuai dengan penalaran dan ucapan. Di bidang analisis logistik formal, mereka menguraikan teoriistilah , proposisi dan silogismeseperti yang dirumuskan dalam Kategori Aristoteles, De interpretasi dan Analisis Sebelumnya. Dalam semangat Aristoteles, mereka menganggap silogisme sebagai bentuk di mana semua argumen rasional dapat direduksi, dan mereka menganggap teori silogisme sebagai titik fokus logika. Bahkan puisi sebagai seni silogistik dalam beberapa gaya oleh sebagian besar Aristotelian Islam utama. Ilmu Logika atau yang dalam Islam lebih dikenal dengan istilah Ilmu Mantiq adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari yang salah. Istilah 'logika' dipergunakan pertama kali oleh Zeno dari Citium. Kaum Sofis, Socrates, dan Plato Dikenal sebagai perintis lahirnya Logika. Logika lahir sebagai ilmu atas jasa Aristoteles, Theoprostus dan kaum Tsoa.
Dalam ranah Islam Logika mulai diminati sejak abad II Hijriyah. Pada saat itu umat islam mulai melakukan penerjemahan kitab-kitab Yunani secara besar-besaran kedalam Bahasa Arab. Termasuk di antaranya adalah kitab-kitab buah karya filosof besar seperti Socrates, Plato, Aristoteles dan lain-lain.
B. Asas-Asas Pemikiran
Dalam logik yang dicari kebenarannya adalah kebenaran. Kebenaran sendiri pada kenyataan adalah persesuaian antara pikiran dan kebenaran. Kita akan mengatakan bahwa proposisi ini benar bila benar-benar dan pikiran terjadi persesuaian. Misalkan, di Desa Tegalsari berdasarkan data kependudukan ternyata seluruh penduduknya adalah muslim, Dausat Al Baihaqi adalah penduduk desa tersebut. Maka, Dausat Al Baihaqi adalah muslim. Berbeda dengan pernyataan Ali adalah orang tunawicara yang pandai berdebad. Dari pernyataan kedua tersebut nanpak jelas suatu keganjilan, manamungkin ada seorang yang tunawicara mampu berdebat sedangkan untuk berbicara saja dia tidak bisa. Berbeda dengan pernyataan pertama yang menyampaikan bahwa Dausat Al Baihaqi adalah muslim, kesimpulan ini didasarkan pada validitas data kependudukan yang ada.
Ilmu atau logika ilmu pengetahuan secara global, menyaring dan menilai pemikiran secara serius dan terpelajar serta bertujuan mandapatkan kebenaran, terlepas dari segalal kepentingan dan keinginan perorangan. Ia merumjuskan serta menerapkan hukum-hukum dan katokan-patokan yang harus ditaati agar manusia dapat berfikirbenar, efisiendan teratur. Dengan demikian ada dua obyek penyelidikan logika, pertama, obyek bahan dan kedua, objek formal.Para ulama berpendapat bahwa hubungan ushul fiqh, filsafat, dan logika adalah 'alāqah ihtiyājiyyah manhājiyyah (hubungan kebutuhan metodologis) karena landasan hukum dalam teori ushul fiqh tidak hanya bersumber dari kitab suci (naql i) seperti al-Qur'an' an dan Hadits tetapi juga dari logika ('aqli). Untuk lebih memahami nalar tekstual (naqli) diperlukan nalar atau kompetensi nalar. Makalah ini mencoba menganalisis secara kritis dan komprehensif hubungan tersebut sehingga akan terungkap posisi filsafat dan logika dalam hukum Islam. Ini penting karena umat Islam masih memandang filsafat dan logika tidak relevan dengan Islam. Kajian ini menunjukkan bahwa hubungan antara filsafat dan logika dengan hukum Islam sangat kuat karena metodologi hukum Islam (ushul fiqh) mengakomodasi keduanya. Jadi ini adalah hubungan metodologis. Dengan demikian, mengklaim bahwa kedua disiplin ini dilarang dalam Islam, seperti yang mungkin diasumsikan oleh Muslim, tidak dapat dipertahankan. Sebaliknya, mereka adalah elemen penting dalam sistem hukum Islam. Ilmu logika atau yang lebih dikenal dalam Islam dengan istilah ilmu mantiq yang merupakan ilmu untuk mempelajari metode dan hukum untuk membedakan penalaran yang benar dari yang salah. Didalam buku Logika (Ilmu Mantiq) mantiq dikatakan sebagai ilmu segala benar atau sering disebut dengan bapak dari segala ilmu.
Sebagai ilmu Logika sendiri berasal dari kata logike (kata sifat dari kata kerja logis) dari bahasa yunani yang berarti “kata” dan “ucapan” yang diucapkan secara selengkap-lengkapnya. Sedangkan ilmu adalah satu lafadz yang mempunyai makna ganda yakni berarti apa yang diketahui (al-ma’rifah) yakni dipercaya dengan pasti sesuai dengan kenyataan yang muncul dari suatu alasan argumentasi yang disebut dalil, selanjutnya berarti gambaran yang ada pada akal tentang sesuatu. Dapat disimpulkan logika merupakan ilmu yang memberikan aturan-aturan berpikir secara valid untuk menemukan penalaranan yang benar.
Sedang lapangan dari ilmu mantiq (logika) yakni lafadz atau kata, mustahil tanpa belajar lafadz kita bisa merangkai kalimat. Selanjutnya qadhiyah atau kalimat, tanpa belajar qadhiyah tidak mungkin bisa belajar qiyas, karena qiyas terdiri dari qadhiyah. Terakhir qiyas, yang terdiri dari mukaddimah yang didapat melalui belajar lafadz dan qadhiyah.
Sebelum menuju ke inti sari artikel ini penulis ingin memaparkan sedikit tentang filsafat. Filsafat merupakan proses berpikir secara radikal, sistematis, dan universal terhadap segala sesuatu yang dipersoalkan hingga memperoleh jawaban yang sebenar benarnya. Logika yang merupakan bagian dari filsafat, logika meletakkan landasan berfikir, menganalisis, pengetahuan manusia dan proses terjadinya pengetahuan itu yang selidiki bukan pengetahuan tentang alam, atau kebudayaan atau mengenai manusia, tetapi melainkan mengenai pengetahuan.
Filsafat muncul di yunani kuno sekitar abad 600 tahun SM, yang telah melahirkan filsuf seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan lain-lain. Tidak mau kalah Islam juga mempunyai para filsuf dan ahli ilmu pengetahuan, terutama dibidang kedokteran seperti Abu al-Abbas al-Sarkasyi abad ke-9 M, Al-Razi pada abad ke-10 dan lain-lain. Filsuf Islam yang pertama muncul yaitu al-kindi, belakangan muncul filsuf berikutnya al-Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali, Ibnu Rusyd, dan sebagainya. Penulis akan memaparkan bagaimana logika didalam di dunia Islam.
Logika di dunia Islam
Logika mulai tumbuh dan berkembang di dunia Islam yakni sejak zaman kejayaan Islam. Islam ketika itu telah berkembang sampai ke Spanyol di Barat dan di Timur mencapai perbatasan Cina. Zaman itu terkenal dengan zaman perkembangan ilmu pengetahuan dan dilakukan penterjemahan buku-buku Yunani Kuno, Persia dan Sanskerta ke dalam Bahasa Arab terutama pada zaman khalifah Al-Ma’mum dari daulat Abbasiyyah di Baghdad dan Khalifah Abdurrahman dari Dinasti Bani Umayyah di Cordova.
Ini adalah tokoh-tokoh Islam yang yang berjasa dalam penterjemahan buku-buku Logika dan Filsafat antara lain Sa’ad bin Ya’kub Al-Damisqi, Abu Bisyr bin Matta, kemudian datang pula Al-Farabi, yang mendapat gelar guru kedua atau Ma’allim tsani, karena jasanya dalam bidang Filsafat. Ibnu Sina dengan bukunya Al-Syifa berkomentar terhadap karangan –karangan Plato, Aristoteles, dan Al-Farabi yang diterjemahkan dalam bahasa Prancis dan menjadi rujukan utama dalam perkembangan Filsafat di dunia Barat. Kegemarannya dalam mempelajari logika terus menjadi Tradisi dalam dunia Islam.
sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud : عَنْ عَائِشَةَ رَحِمَهَا اللّهُ قَالَتْ كَانَ كَلاَمُ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلاَمًا فَصْلاً يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ (رواه ابو داود) Artinya :“Dari Aisyah Rahimah Allah berkata, sesungguhnya perkataan Rasulullah adalah ucapan yang sangat jelas, dan dapat memahamkan orang yang mendengarkannya”. (HR. Abu Dawud) Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah dalam menyampaikan penjelasannya menggunakan gaya dan bahasa yang mudah dipahami bagi seseorang yang diajak bicara.
Komentar
Posting Komentar